

Di arena Pameran Kreatif Indonesia Bisa di Atrium Senayan City 7 Agustus dan diskusi Majalah Versus di Aksara Book Shop Kemang 8 Agustus bertemu dengan Adityayoga (Adit). Pertama ketemu memakai kaos merah ini:

Lalu memberikan secarik kertas ala penjual parfum yang menulis nama blognya: www.hiduplahindonesiaraya.wordpress.com. Idenya oke tapi dia bilang “aku harusnya semprot parfum aroma melati atau aroma minyak si nyong-nyong” yang Indonesia flavor itu. Di blognya ada tulisan seperti ini:
Ketika Sultan Hamid II “ngobrol” dengan Milton Glaser…
Mungkin ada yang belum tau siapa Milton Glaser dan siapa sih Sultan Hamid II ???
Beliau adalah dua tokoh yang kita agung-agungkan karyanya…..siapa yang tidak tahu garuda pancasila….yup burung yang selalu nangkring diatas dinding sekolah kita…yup burung emas yang ngadep kanan….itulah karya hebat dari Sultan Hamid II …sebuah maharancangan yang kita akui sebagai muka kita di dunia sebagai bangsa..
I NY susunan sederhana huruf yang menjadikan dirinya sebuah ikon besar dunia dan sudah bertransformasi ke berbagai bentuk tanpa kita lupakan asal-usulnya, inilah salah satu mahakarya Milton glaser, seorang desainer grafis tingkat dunia…
Kedua tokoh inilah yang mengilhami kita untuk membuat sesuatu bagi Indonesia……
Gabungan kedua mahakarya tidak otomatis menjadikan sebuah super mahakarya tapi bertujuan untuk mengajak kita bangga sebagai Indonesia….
Bagi yang berminat bisa menghubungi
RAYA, no telp : 0811 183 746 - 021 948 9292 0
price : Rp 85.000 (kaos putih) - Rp 80.000 (kaos merah)
uk. S, M, L, XL
pilihan warna : merah & putih
tersedia untuk laki-laki & perempuan.
Tambah lagi desain ekspresi kebangsaan. Ayo… lagi…lagi….
Oleh Arief Adityawan, dimuat dalam blog Grafis Sosial 3 Agustus 2008
Buku ini tepatnya adalah sebuah graphic novel mengenai sebuah nation, sebuah bangsa, dimana kita menjadi salah satu manusia di dalam kumpulan yang disebut “bangsa” itu.
Buku ini dibuat oleh seorang perupa, desainer grafis, yang tinggal di Bali, Ayip. Dia juga memiliki sebuah biro desain yang bernama matamera communication. Bukunya sendiri sangat unik karena, walaupun minim kata, kecuali sebuah pengantar penutup oleh Sugi Lanus, namun merupakan sebuah renungan yang mengajak pembaca merefleksikan kembali makna bangsa ini. Mengajak kita merenungkan kembali apa yang tengah dialami bangsa ini. Mengapa bangsa ini serasa belum cukup menderita selama tiga setengah abad dijajah bangsa asing, tigapuluhdua tahun dijajah Soeharto, dan kini, sepuluh tahun dijajah koruptor.
Pada pengantarnya, Ayip menulis:
“Isi buku ini, Awalnya adalah koleksi lepasan karya pribadi yang dituangkan suka-suka dalam goresan, foto maupun desain. Membiasakan merespon sesuatu apalagi kejadian barangkali yang melatari hadirnya karya- karya diluar pekerjaan mendesain atau non komersil ini. Bagi saya kebiasaan ini penting sebagai catatan bebas merespon sesuatu lewat kepekaan dan kacamata profesi.”
Sebagaimana dikemukakan Ayip pada pengantarnya, Buku ini memang terasa sebagai sebuah kumpulan semburat ide lepas, kadang terasa berulang-ulang, hanya dengan desain yang berbeda. Namun “kelemahan” ini (kalaupun itu disebut kelemahan) tetap termaafkan oleh kekayaan desain yang berhasil dieksplorasi oleh Ayip.
Walaupun ’sekedar’ kumpulan ide atau catatan harian, namun kita sebagai pembaca diajak menyusuri kembali makna pulau pulau dari Sabang sampai Merauke yang dijemur pada seutas tali. Seandainya saja menghilangkan korupsi di DPR dan Kejaksaan Agung semudah kita mencuci pakaian. Desain menjemur kepulauan Indonesia tentu menjadi salah satu desain terbaik dalam buku itu. Memang ada beberapa karya dengan gagasan “biasa-biasa saja” misalnya memainkan penggalan “one” dari kata “indonesia”
Namun kalau itu boleh kita sebut sebagai “kelemahan”, masih dapat kita anggap wajar karena terbayar oleh berbagai ide menarik dan menggugah yang tersebar pada halaman halaman buku ini. Demikian pula tafsiran Ayip mengenai para pahlawan yang sudah sangat umum kita kenal, Bung Karno, Kartini. Namun dengan rancangan grafis yang menarik memberi ajakan pada kita untuk mengapresiasi kembali apa yang telah mereka lakukan.
Sungguh, secara keseluruhan - dengan beberapa “kekurangan” di atas, buku ini merupakan buku yang luar biasa menarik mengingat tidak banyak buku yang berbasis desain grafis - kalau bukan tidak ada - yang berupaya menggambarkan kecintaan terhadap negerinya seperti yang dilakukan Ayip. Kehadiran buku ini menjadi sangat penting bagi bagi bangsa Indonesia yang sedang didera oleh kenyataan betapa hebatnya korupsi di negeri ini, mulai dari pejabat kejaksaan agung hingga anggota DPR melakukan korupsi kolektif. Atau kepiluan mengenai betapa anehnya negeri ini, ketika seorang Menko Kesejahteraan Rakyat selalu bersikap dan mengeluarkan pernyataan yang lebih menguntungkan perusahaan pertambangan yang menyengsarakan ribuan rakyat Sidoarjo, ketimbang membela rakyat yang kalah. Betapa anehnya Presiden SBY yang tidak berani pada menteri itu.
Buku ini seharusnya menjadi buku wajib bagi kita bangsa yang sebentar lagi akan melakukan Pemilu 2009, untuk merenung apakah ada partai yang pantas untuk kita pilih. Sungguh buku yang sangat menarik, sangat enak dan perlu dibaca.
CATATAN PENTING